Pages

Tuesday, August 14, 2018

Memburuknya Friksi Dagang AS-Tiongkok Berpotensi Tekan CPO

Jakarta: Harga CPO masih berpeluang melemah pada perdagangan Selasa, setelah ditutup lebih rendah 1,7 persen di level 2.204 ringgit Malaysia pada Senin dipicu oleh pelemahan harga kedelai.

Seorang trader di Kuala Lumpur mengatakan bahwa harga minyak sawit turun karena mengikuti pergerakan kedelai. Minyak nabati dan kedelai di Chicago Board of Trade Amerika Serikat harganya turun karena kekhawatiran pasar bahwa ketegangan dagang antara Washington dan Beijing dapat menyebabkan tingginya cadangan AS, yang sudah diproyeksikan di rekor tertinggi, bahkan bisa meningkat lebih tinggi lagi.

"Selain itu trader juga mengatakan bahwa harga minyak sawit masih dapat bergerak turun dalam jangka pendek, yang mengutip dari meningkatnya produksi dan stok akhir," tutur tim analis Monex Investindo Futures, dalam hasil risetnya, Selasa, 14 Agustus 2018.

Adapun ekspor Agustus juga tidak terlalu baik, karena para pembeli akan menunggu untuk pajak eskpor minyak kelapa sawit nol persen yang akan dimulai September.

Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pada Senin mengatakan bahwa Malaysia menurunkan pajak ekspor mereka untuk minyak kelapa sawit untuk September menjadi nol persen, turun dari 4,5 persen di Agustus, yang mengutip dari departemen bea cukai Malaysia.

Selain itu MPOB juga melaporkan pada Jumat bahwa stok akhir Juli di Malaysia naik 1,3 persen menjadi 2,21 juta ton di untuk kenaikan bulan kedua, sementara itu ekspor tumbuh 6,8 persen dari Juni menjadi 1,21 juta ton.

Kontrak minyak nabati Desember di Chicago memperpanjang penurunan dari Jumat yang turun 1,6 persen, untuk turun 0,8 persen pada Senin.

Pada perdagangan hari ini harga CPO untuk kontrak Oktober 2018 dibuka di level 2.215 ringgit Malaysia, dengan level tertingginya di 2.217 ringgit Malaysia dan level terendahnya di 2.202 ringgit Malaysia dengan harga saat ini sedang berada di level 2.202 ringgit Malaysia (pukul 11.40 WIB).

Potensi pelemahan pada hari ini perlu dikonfirmasi untuk penembusan level support di kisaran 2.190 ringgit Malaysia (support 1), 2.170 ringgit Malaysia (support 2), dan 2.150 ringgit Malaysia dan jika harga rebound, harga berpotensi naik untuk menguji resisten di level 2.220 ringgit Malaysia (resisten 1), 2.240 ringgit Malaysia (resisten 2), dan 2.250 ringgit Malaysia.

(AHL)


Let's block ads! (Why?)

http://ekonomi.metrotvnews.com/globals/wkBQPMeb-memburuknya-friksi-dagang-as-tiongkok-berpotensi-tekan-cpo

No comments:

Post a Comment